Bandung, pelajar.or.id - Semangat literasi kembali mekar di lingkungan Pesantren Persatuan Islam (Persis) 282 Cileutik. Pada Ahad, 12 April 2026, bertempat di Aula PPI 282 Cileutik, Banjaran, Kabupaten Bandung, secara resmi diluncurkan buku kedua karya para santri berjudul "Jika Dinding Bisa Bercerita".
Berbeda dari karya pertamanya, buku ini merupakan hasil kolaborasi antara santri pesantren dan lima orang mahasiswa Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yakni Faiz Nasyith, Dzihni Azka, Jihan Aulia, Milda Fathur, dan Tristan Davin.
Karya ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah rekam jejak proses belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan antara santri dan mahasiswa. Para santri menuangkan sudut pandang mereka tentang kehidupan, nilai, dan pengalaman keseharian, sementara para mahasiswa berperan sebagai jembatan yang menghidupkan diskusi, memperkaya perspektif, dan mendampingi proses kreatif dari awal hingga buku ini siap dibaca publik.
Dalam sambutannya, para asatidz dari jenjang Tsanawiyah maupun Mu'allimien menegaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan wujud nyata dari pembiasaan berkarya yang terus ditumbuhkan di lingkungan pesantren. Mereka mendorong para santri untuk tidak pernah berhenti menebar manfaat melalui karya.
Salah seorang perwakilan mahasiswa mengungkapkan bahwa proses penyusunan buku ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Namun menurutnya, justru di situlah letak keistimewaannya. "Ini bukan hanya tentang hasil akhir, tapi tentang bagaimana kami belajar berdiskusi, memahami, dan menulis bersama," ungkapnya.
Buku kedua ini hadir dengan nuansa yang lebih berani, lebih reflektif, dan lebih jujur dibanding karya pertama yang sebelumnya mendapat respons positif dari pembaca. Peluncurannya sekaligus menjadi penanda konsistensi Pesantren Persis 282 Cileutik dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi yang menjadi rohnya, buku ini diharapkan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga inspirasi — bahwa ruang belajar bisa melahirkan karya, dan bahwa setiap suara, sekecil apa pun, layak untuk dituliskan. []

Social Footer