Berita Trending

Seminar BK Jabar 2026: Konseling Qur'ani, Hadirkan Pendekatan yang Menyentuh dan Menyalakan Hati Murid

Ilustrasi Konseling Qurani


Siapa sangka, sebuah korek api bisa menjadi pintu masuk memahami bimbingan dan konseling?

Itulah yang terjadi dalam Seminar Bimbingan dan Konseling (BK) bertema Konseling Qur’ani yang digelar pada Rabu, 8 April 2026 dalam rangkaian Jabar Book Fair 2026 di Hall PT Inti Bandung.

Kegiatan yang diinisiasi Forum Guru BK PW Persis Jawa Barat bersama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Barat ini diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mulai dari guru BK, guru kelas, kepala sekolah, dosen, hingga mahasiswa, semuanya berkumpul dalam satu semangat: memahami pendekatan baru dalam mendampingi murid

Sejak awal, suasana terasa hidup. Bukan sekadar seminar biasa, tetapi ruang refleksi yang mengajak peserta berpikir ulang tentang makna bimbingan dan konseling.

Pada sesi pembukaan, Ketua PW Persis Jawa Barat, Ust. H. Iman Setiawan Latief, S.H. menegaskan peran guru BK tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru BK, menurutnya, adalah sosok penting yang tidak hanya membantu menyelesaikan masalah siswa, tetapi juga membimbing arah hidup mereka.

Namun, salah satu momen paling berkesan datang dari pemaparan Dr. Daris Tamin, M.Pd., Dosen BKPI IAI Persis Garut. Ia membuka materinya dengan cara yang tak biasa melalui metafora sederhana: korek api, Menyalakan yang Padam: Hikmah Kehidupan dari Sebuah Korek, ia mengajak peserta merenung bahwa dalam hidup, terkadang yang dibutuhkan hanyalah “percikan kecil” untuk kembali bangkit dan menolong orang lain bangkit.

Tak hanya itu, ia juga mengajak peserta belajar dari air: mengalir, menyejukkan, dan memberi kehidupan. Sebuah gambaran tentang bagaimana seharusnya proses konseling berjalan, tidak keras, tetapi menguatkan dan berdampak.

Menariknya, Dr. Daris mengungkap bahwa perjalanan Konseling Qur’ani tidaklah instan. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 1995, pendekatan ini sempat dianggap sebelah mata bahkan dicap hanya sebagai “pengajian biasa” karena membahas hal-hal yang dianggap abstrak seperti sabar dan ikhlas.

Namun waktu membuktikan sebaliknya.

Kini, Konseling Qur’ani berkembang menjadi pendekatan yang lebih sistematis dan ilmiah, bahkan ditandai dengan akan lahirnya publikasi Trilogi Quranic Counseling pada tahun 2026.

“Al-Qur’an adalah grand theory dalam psikologi dan konseling, sementara hadits adalah contoh nyata perilaku manusia ideal,” jelasnya.

Baginya, ini bukan sekadar konsep.
“Alhamdulillah, ini bukan sekadar teori. Ini adalah upaya menghidupkan kembali mata air petunjuk dari Al-Qur’an dalam praktik bimbingan dan konseling yang nyata,” ungkapnya.

Materi lain yang disampaikan oleh ust Bubun Farhabun, S.Pd.I.,  Ketua Bidang Garapan Pendidikan PW Persis Jawa Barat pun menguatkan bahwa guru BK memiliki peran strategis dalam upaya pendampingan psikologis peserta didik berbasis nilai nilai qur'ani.  

Dalam waktu sekitar 120 menit, seminar ini seolah menjadi pengingat: bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya menyelesaikan masalah murid tetapi membantu mereka menemukan kembali arah hidupnya.

Di tengah dunia yang semakin kompleks, Konseling Qur’ani hadir membawa sesuatu yang sederhana tapi dalam, mengembalikan manusia pada fitrahnya, dan menyalakan kembali apa yang sempat padam dalam dirinya. []

Type and hit Enter to search

Close