Kita hidup di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan mudah. Untuk membeli makanan, pakaian, buku, bahkan berbagai perlengkapan rumah tangga, kita tidak perlu lagi pergi ke banyak tempat. Cukup membuka telepon genggam, memilih barang yang diinginkan, melakukan pembayaran, lalu menunggu pesanan tiba. Marketplace seperti Shopee telah membuat aktivitas berbelanja menjadi jauh lebih praktis.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa kemudahan tersebut sebenarnya hanya menjawab sebagian dari kebutuhan manusia?
Marketplace dapat membantu kita memperoleh apa yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, ia tidak memberikan jawaban tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya, membedakan yang benar dan salah, membangun hubungan dengan sesama, ataupun menemukan makna di balik setiap peristiwa yang dialami. Dalam hal inilah Al-Qur'an memiliki kedudukan yang berbeda.
Al-Qur'an bukan sekadar bacaan keagamaan yang dibuka ketika seseorang hendak beribadah. Di dalamnya terdapat petunjuk mengenai berbagai dimensi kehidupan manusia. Keluasan kandungan tersebut menjadi salah satu hal yang menjadikan Al-Qur'an begitu istimewa.
Muhammad Amin Suma dalam bukunya 'Ulumul Qur'an (2014) menjelaskan bahwa Al-Qur'an memuat persoalan yang sangat luas dan beragam. Salah satu ayat yang sering menjadi pembahasan berkaitan dengan keluasan kandungannya adalah firman Allah Swt. dalam QS. Al-An'am ayat 38:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
Artinya: "Dan tidak ada seekor binatang melata pun di bumi dan tidak pula burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan." (QS. Al-An'am: 38).
Tentu saja, para ahli tafsir memiliki penjelasan yang beragam mengenai maksud kata al-kitab dan konteks kelengkapan yang disebutkan dalam ayat tersebut. Karena itu, ayat ini tidak semestinya dipahami secara sederhana bahwa setiap persoalan praktis manusia dijelaskan secara terperinci di dalam Al-Qur'an. Namun, ayat tersebut setidaknya mengajak kita untuk melihat betapa luasnya cakupan petunjuk dan kandungan Al-Qur'an.
Jika marketplace bekerja dengan menyediakan berbagai kebutuhan berdasarkan kategori dan pilihan barang, Al-Qur'an menghadirkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: pedoman bagi manusia dalam menentukan arah kehidupannya. Keduanya tentu tidak dapat dibandingkan secara langsung karena memiliki fungsi yang berbeda. Namun, perbandingan ini dapat membantu kita memahami bahwa memenuhi kebutuhan hidup tidak selalu berarti telah menemukan petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Dalam kajian 'Ulumul Qur'an, kandungan Al-Qur'an dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tema besar. Di antaranya adalah akidah dan tauhid, syariat yang mencakup ibadah dan muamalah, akhlak dan etika, qashash atau kisah-kisah umat terdahulu, isyarat mengenai alam semesta, serta wa'du dan wa'id yang berkaitan dengan janji dan ancaman Allah.
Keenam tema tersebut bukanlah bagian-bagian yang berdiri sendiri tanpa hubungan. Masing-masing memiliki keterkaitan dalam membentuk pemahaman manusia tentang kehidupan.
Akidah dan tauhid, misalnya, menjadi dasar keyakinan seorang Muslim dalam mengenal dan mengimani Allah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui syariat, baik dalam bentuk ibadah maupun hubungan sosial dengan sesama manusia. Akan tetapi, pelaksanaan ibadah dan hubungan sosial tidak cukup hanya berlandaskan aturan. Keduanya juga membutuhkan akhlak dan etika agar manusia tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi mampu menghadirkan kebaikan dalam kehidupannya.
Di sisi lain, kisah-kisah umat terdahulu memberikan pelajaran tentang berbagai peristiwa, perjuangan, dan konsekuensi dari pilihan manusia. Sementara itu, pembahasan mengenai alam semesta mengajak manusia untuk memperhatikan ciptaan Allah dan merenungkan kebesaran-Nya. Adapun wa'du dan wa'id mengingatkan manusia tentang adanya janji kebaikan dan ancaman bagi setiap perbuatan.
Dari sini kita dapat melihat bahwa kandungan Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyentuh hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, dan lingkungan kehidupannya.
Barangkali inilah yang membuat Al-Qur'an tidak pernah kehilangan relevansinya. Manusia boleh saja hidup pada zaman yang berbeda, menghadapi persoalan yang terus berubah, dan menggunakan teknologi yang semakin berkembang. Namun, kebutuhan terhadap nilai, kebijaksanaan, dan petunjuk kehidupan tetap menjadi bagian penting dari keberadaan manusia.
M.M. Al-A'zami dalam Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi (2005) turut menggambarkan kedudukan Al-Qur'an yang begitu istimewa bagi umat Islam. Al-Qur'an tidak hanya menjadi sumber petunjuk, tetapi juga menghadirkan ketenangan, keindahan bahasa, dan berbagai hikmah bagi mereka yang membaca serta merenungkannya.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi memang patut disyukuri. Marketplace membuat banyak urusan menjadi lebih mudah, sebagaimana berbagai inovasi lainnya membantu manusia menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, kemudahan memperoleh sesuatu tidak selalu sejalan dengan kemampuan menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Kita bisa membeli banyak buku, tetapi belum tentu memperoleh kebijaksanaan. Kita bisa memiliki berbagai fasilitas, tetapi belum tentu menemukan ketenangan. Kita juga bisa memenuhi hampir semua keinginan, tetapi tetap merasa kehilangan arah.
Karena itu, manusia tidak cukup hanya membutuhkan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia juga membutuhkan pedoman agar kehidupannya memiliki tujuan dan makna.
Marketplace mungkin membantu kita menemukan barang yang sedang dicari. Akan tetapi, Al-Qur'an mengajak kita menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana menjalani kehidupan dengan benar dan ke mana seharusnya kita melangkah.
Sebab, pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita menggunakan apa yang dimiliki dan untuk tujuan apa kita menjalaninya.
Daftar Pustaka
Al-A'zami, M. M. (2005). Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi. Terjemahan Sohirin Solihin, dkk. Jakarta: Gema Insani.
Suma, Muhammad Amin. (2014). 'Ulumul Qur'an. Jakarta: Rajawali Pers, Cetakan II.

Social Footer